Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 3
Bagian 3: Salim Peto Bandaro dan Lahirnya Seorang Ulama
Beberapa tahun setelah menetap di Lubuak Landua, kehidupan keluarga Peto Sulaiman semakin mapan. Ladang mulai menghasilkan, hubungan dengan masyarakat semakin erat, dan surau kecil yang dibangun bersama-sama mulai ramai oleh anak-anak nagari yang belajar mengaji dan silat.
Putra tunggal Peto Sulaiman, Salim Peto Bandaro, tumbuh menjadi pemuda yang santun dan cerdas. Sejak kecil ia telah dididik langsung oleh ayahnya tentang agama, adab, dan tanggung jawab sebagai seorang laki-laki Minangkabau. Salim dikenal rajin membantu orang tua, rendah hati, dan disukai masyarakat.
Ketika Salim telah cukup umur, ia menikah dengan seorang perempuan salehah dari lingkungan Lubuak Landua. Dari pernikahan inilah, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak menjadi tokoh besar dalam sejarah Aur Kuning, yaitu Muhammad Basyir.
Sejak kecil, Muhammad Basyir menunjukkan tanda-tanda kecerdasan dan ketenangan yang berbeda dari anak-anak seusianya. Ia jarang bermain berlebihan, lebih suka duduk mendengarkan orang tua berbicara, atau memperhatikan ayah dan kakeknya mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Peto Sulaiman sangat memperhatikan cucunya ini. Ia sering memangku Muhammad Basyir sambil melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan zikir dengan suara lembut.
“Anak ini kelak akan menjadi penerang nagari,” ujar Peto Sulaiman suatu ketika.
Didikan agama menjadi fondasi utama dalam kehidupan Muhammad Basyir. Sejak usia dini, ia telah dikenalkan dengan Al-Qur’an, fiqih dasar, adab terhadap guru, dan pentingnya membersihkan hati. Semua pelajaran itu disampaikan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui teladan hidup.
Surau di Lubuak Landua menjadi saksi tumbuhnya seorang anak yang kelak dikenal masyarakat sebagai Inyiak Baliau, seorang ulama yang disegani, rendah hati, dan dekat dengan Allah.
Bersambung ke Bagian 4 – Masa Muda Inyiak Baliau dan Ikan Larangan
Komentar
Posting Komentar